Ticker

6/recent/ticker-posts

Kesenian Rampak Bedug yang Tersisihkan

 



Ilustrasi Tarian Rampak Bedug. Sumber foto : Pesona Banten


Apa yang kamu pikirkan, jika mendengar kata 'Rampak Bedug'?

Benar, Rampak Bedug adalah tarian tradisional yang berkembang di ujung utara pulau Jawa tepatnya di Pandeglang, Banten. Kesenian ini diiringi oleh alat musik berupa bedug, tilingtit, dog-dog, dan panakol.

Uci Supriatna merupakan penari kesenian rampak bedug ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, yang akan membagi kisah dan pengalaman selama bergabung di kesenian itu kepada kamu.

Pria yang berperawakan gagah ini didaulat menjadi ketua kesenian di sekolahnya. Sehingga Uci tahu betul, salah satu yang diajarkan pembinanya adalah kesenian rampak bedug.

Meskipun, latihan dilakukan hanya seminggu sekali. Tapi Uci mengisahkan secara detail perjalanan kesenian rampak bedug sebagai ekstrakurikuler yang dipilihnya.

Uci menceritakan rampak bedug awalnya hanya hiburan masyarakat saat menyambut hari raya Idul Fitri. Namun, semakin berkembang suatu zaman kesenian ini menjadi hiburan di acara-acara yang lebih luas seperti pernikahan, khitanan, penyambutan tamu, hingga hari besar nasional.

Zaman dulu tarian ini hanya dimainkan oleh laki-laki. Layaknya tari tradisional yang mulai terjadi perubahan, akhirnya tarian rampak bedug dibawakan 10 orang laki-laki dan perempuan. Dimana bedug dan rebana di mainkan para laki-laki, serta penabuhan dan tarian dilakukan para perempuan.

Dibalik itu, rampak bedug sudah jarang terlihat. Hanya sekolah-sekolah tertentu yang menyediakan kesenian ini. Bahkan dalam benak Uci ketika dulu menjabat, dari siswa dan siswa minat belajar kesenian rampak bedug sudah berkurang padahal fasilitas disediakan oleh pihak sekolah.

“Miris sekali sih, melihat kesenian rampak bedug sekarang. Sekolah memfasilitasi tapi keinginan atau minat siswanya yang rendah”.

Uci sendiri memiliki rasa kebanggaan karena ikut berpartisipasi untuk melestarikan budaya daerah kelahirannya, walaupun sebagian anak muda sudah tidak berminat bahkan lupa akan kesenian tradisional. Setidaknya Uci sudah mengingatkan dengan melakukan branding lewat rampak bedug.

Sangat lucu generasi sekarang, budaya negara lain banyak diikuti bahkan dijadikan passion sehari-hari. Namun, budaya daerah sedikit demi sedikit terkikis bahkan hampir punah ditelan zaman.

Nyatanya, saat ini bukan hanya degradasi moral yang terkena imbas. Namun, kesenian daerah pun semakin sempit ruang lingkupnya. Padahal, ketika kesenian kita dicap negara lain masyarakat baru berkoar-koar tapi dalam implementasi tidak dihidupkan auranya.(MEL)

Feature ini telah terbit di media klikwarta.com https://www.klikwarta.com/kesenian-rampak-bedug-yang-tersisihkan




 

Posting Komentar

0 Komentar