Ilustrasi Tarian Rampak Bedug. Sumber foto
: Pesona Banten
Apa
yang kamu pikirkan, jika mendengar kata 'Rampak Bedug'?
Benar,
Rampak Bedug adalah tarian tradisional yang berkembang di ujung utara pulau
Jawa tepatnya di Pandeglang, Banten. Kesenian ini diiringi oleh alat musik
berupa bedug, tilingtit, dog-dog, dan panakol.
Uci
Supriatna merupakan penari kesenian rampak bedug ketika duduk di bangku Sekolah
Menengah Atas, yang akan membagi kisah dan pengalaman selama bergabung di
kesenian itu kepada kamu.
Pria
yang berperawakan gagah ini didaulat menjadi ketua kesenian di sekolahnya.
Sehingga Uci tahu betul, salah satu yang diajarkan pembinanya adalah kesenian
rampak bedug.
Meskipun,
latihan dilakukan hanya seminggu sekali. Tapi Uci mengisahkan secara detail
perjalanan kesenian rampak bedug sebagai ekstrakurikuler yang dipilihnya.
Uci
menceritakan rampak bedug awalnya hanya hiburan masyarakat saat menyambut hari
raya Idul Fitri. Namun, semakin berkembang suatu zaman kesenian ini menjadi
hiburan di acara-acara yang lebih luas seperti pernikahan, khitanan,
penyambutan tamu, hingga hari besar nasional.
Zaman
dulu tarian ini hanya dimainkan oleh laki-laki. Layaknya tari tradisional yang mulai
terjadi perubahan, akhirnya tarian rampak bedug dibawakan 10 orang laki-laki
dan perempuan. Dimana bedug dan rebana di mainkan para laki-laki, serta
penabuhan dan tarian dilakukan para perempuan.
Dibalik
itu, rampak bedug sudah jarang terlihat. Hanya sekolah-sekolah tertentu yang
menyediakan kesenian ini. Bahkan dalam benak Uci ketika dulu menjabat, dari
siswa dan siswa minat belajar kesenian rampak bedug sudah berkurang padahal
fasilitas disediakan oleh pihak sekolah.
“Miris
sekali sih, melihat kesenian rampak bedug sekarang. Sekolah memfasilitasi tapi
keinginan atau minat siswanya yang rendah”.
Uci
sendiri memiliki rasa kebanggaan karena ikut berpartisipasi untuk melestarikan
budaya daerah kelahirannya, walaupun sebagian anak muda sudah tidak berminat
bahkan lupa akan kesenian tradisional. Setidaknya Uci sudah mengingatkan dengan
melakukan branding lewat rampak bedug.
Sangat
lucu generasi sekarang, budaya negara lain banyak diikuti bahkan dijadikan passion
sehari-hari. Namun, budaya daerah sedikit demi sedikit terkikis bahkan hampir
punah ditelan zaman.
Nyatanya, saat ini bukan hanya degradasi moral yang terkena imbas. Namun, kesenian daerah pun semakin sempit ruang lingkupnya. Padahal, ketika kesenian kita dicap negara lain masyarakat baru berkoar-koar tapi dalam implementasi tidak dihidupkan auranya.(MEL)
Feature ini telah terbit di media klikwarta.com https://www.klikwarta.com/kesenian-rampak-bedug-yang-tersisihkan


0 Komentar