Potret penampilan debus khas Banten. (Sumber : Dok. Pribadi Nafis
Maulana)
Percepatan teknologi informasi dan komunikasi
semakin memanjakan kaum milenial dengan berbagai hal yang dapat diakses di
media sosial hingga lupa akan kesenian yang zaman dulu dijadikan hiburan bahkan
kebudayaan.
Nafis Maulana kerap
disapa Nafis. Ia salah satu milenial kelahiran Pandeglang, Banten yang sekarang menempuh pendidikan di Stie
Dwi Mulya Serang jurusan Manajemen. Baginya, kesenian debus adalah hobi ekstrem
yang ia miliki.
Bermula saat ia kecil para tetangga menyelenggarakan
acara pernikahan ataupun khitanan yang banyak diisi oleh kesenian debus. Dari
sana rasa penasaran Nafis akan kesenian debus terus membara hingga ia memasuki
perguruan tapak suci.
Nyatanya, di perguruan tersebut membuka peluang
Nafis untuk mengenal seni beladiri yang diselingi dengan latihan debus sebagai
hiburan bagi penonton. Bahkan, first time
ia langsung dipercaya menampilkan kesenian debus untuk memeriahkan acara
kenaikan kelas masa Sekolah Menengah Pertama atau SMP.
Namun, dibalik sepak terjangnya di kesenian debus
restu orang tua menjadi poin penting yang ia pegang ketika ingin tampil. Bahkan
sampai sekarang orang tua Nafis selalu khawatir bila anaknya sudah diminta
tampil di berbagai acara sebab seni debus dibilang salah satu seni berbahaya
dan bisa berakibat fatal.
Sebelum tampil Nafis selalu berlatih sebagai
persiapan sehingga wajar ketekunan dan kepercayaan dirian yang ia miliki mampu
membawa keberuntungan. Ia pun akhirnya mampu menyajikan penampilan yang sempurna hingga membuat para penonton terkagum akan atraksi debus yang ia
suguhkan.
Namun sangat disayangkan kesenian debus saat ini di
Banten kondisinya memprihatinkan. Hal ini disebabkan oleh masuknya budaya
modern yang makin marak berkembang hingga melupakan kebudayaan sendiri yang
hampir punah salah satunya kesenian debus.
Kondisi seperti ini membuat oknum-oknum tertentu menghilang falsafah asli dari kesenian debus. Salah satunya kesenian debus yang marak menggunakan trik bahkan hampir mirip dengan trik sulap yang kita lihat di televisi.
Padahal, dasar dari kesenian debus dulu dikenal
seram sebab dilakukan nyata. Bila pelakon itu mengiris tangan dengan pisau tajam hingga mengeluarkan darah dan pelakon debus tersebut
mampu menghentikan bahkan menghilangkan luka bekas irisan tersebut. Biasanya,
mereka menggunakan olesan-olesan tertentu hingga doa-doa yang dipercaya.
Untuk itu, ia sejak Sekolah Menengah Atas atau SMA
bersama teman-teman sejawatnya sudah mengembangkan kesenian debus melalui
latihan secara ulet agar terus diasah untuk menggali potensi diri hingga
hasilnya dipertontonkan kepada publik di acara tertentu sebagai bukti bahwa
kesenian debus di Banten masih diminati kaula muda.
Sedangkan harapan Nafis untuk kesenian debus ke depannya khusus di daerah Banten janganlah dimusnahkan. Ia pula berharap pada rekan-rekan yang sefrekuensi untuk terus mengembangkan kesenian debus agar terangkat kembali citranya ke khalayak luas.(MEL)
Feature ini telah terbit di media klikwarta.com https://klikwarta.com/millenial-pencinta-debus


0 Komentar