Pintu masuk utama di Festival Kopi Lebak. Foto: Melan Eka Lisnawati
Destinasi wisata kabupaten Lebak yang tiada habisnya, mampu menggaet para wisatawan untuk berkunjung melihat panorama alam dan kebudayaan yang masih kental. Serta didorong visi kabupaten Lebak yang menggaungkan wisata berbasis potensi lokal.
Melalui HUT dan Pekan Raya Lebak terdapat beberapa rangkaian acara yang mengenalkan sekaligus mempromosikan produk asli kabupaten Lebak, salah satunya ialah Festival Kopi Lebak yang diselenggarakan di alun-alun Rangkasbitung bersebelahan langsung dengan museum Multatuli dan perpustakaan Saijah Adinda. Seperti Nia wanita pecinta kopi ini ikut andil menjadi panitia bidang sponsor dalam Festival Kopi Lebak.
"Pekan raya ini sebuah kolaborasi antara UMKM, Koperasi, dan para petani kopi untuk bisa menampilkan kopi-kopi khas kabupaten Lebak," kata Nia sambil makan durian di stand Petani Kopi.
Kabupaten Lebak sendiri secara geografis berada di dataran rendah sebelah utara dan pegunungan sebelah selatan. Kondisi ini menjadikan kabupaten Lebak masyhur akan sumber daya alam, khususnya penggarapan pertanian kopi di sekitaran Baduy, Sobang, Cibeber, Cilograng, Panggarangan, Cigemblong, Cihara, Bayah, Cimarga, Muncang, Leuwidamar, Cileles, Sajira, Banjarsari, Gunungkencana, Cijaku, dan Malingping.
Ilustrasi perkebunan dan kegiatan petani kopi di Kabupaten Lebak, Banten. Foto: Kabar Banten.
Cerita penanaman kopi di kabupaten Lebak sudah ada sejak masa penjajahan Hindia Belanda. Mengutip dari ANTARA, kebutuhan kopi di Eropa yang meningkat membuat pemerintah Hindia Belanda melakukan ekspansi ke luar tataran Parahyangan. Banten pun dipilih sebagai tempat penanaman kopi robusta tepatnya di wilayah Sobang sekarang masuk ke dalam kawasan kabupaten Lebak.
Selain itu, menurut Douwes Dekker atau orang mengenalnya dengan sebutan Multatuli dalam bukunya Max Havelaar menceritakan pengalaman pertama datang ke kabupaten Lebak. Warga sekitar yang ramah memberikan air kelapa muda kepada Multatuli. Tetapi, dia menolak dengan alasan bahwa minum air kelapa muda di siang hari akan berpengaruh buruk pada kesehatannya. Akhirnya, masyarakat sekitar menyediakan kopi daun yang dibuat menggunakan alat penumbuk tradisional.
Sejak saat itu, Lebak menjadi sentral penghasil kopi di Banten. Sampai sekarang cara penanaman dan pemrosesan kopi pun banyak diadopsi oleh masyarakat lokal.
Salah satu produk kopi khas kabupaten Lebak yang dipamerkan saat Festival Kopi Lebak. Foto: Melan Eka Lisnawati
"Rasa kopi yang pahit dengan tekstur sedikit kasar menjadi ciri khas dominan dari kopi khas Lebak. Tak lupa, dengan warnanya yang hitam pekat jadi karakteristik utama dari kopi di sini," ujar Nia seperti sedang mengingat-ingat.
Daya jual kopi di kabupaten Lebak pun menurut Nia sangatlah tinggi. Selain didukung dari sumber daya alam, cita rasa, dan aroma. Kopi juga menjadi penunjang dalam peningkatan wisatawan. Mengingat dukungan dari berbagai elemen serta aktivitas masyarakat pun sudah mulai mengarah pada daerah wisata.
Penggunaan alat pemrosesan pembuatan kopi yang masih tradisional jadi daya tarik tersendiri. "Bila di kota-kota besar, prosesnya sudah menggunakan roasting. Jadi cita rasanya menurut saya sedikit pudar, maka pelaku UMKM kopi di sini rata-ratanya masih mempertahankan alat yang sederhana itu," ujar Nia dengan antusias.
Kemudian, Nia pun membagikan pengalaman sebagai sponsor acara yang berusaha menggaet beberapa perusahaan kopi besar di Indonesia untuk datang ke acara ini. Guna memberikan umpan agar perusahaan itu tertarik membeli bahan baku kopi dari para petani di kabupaten Lebak.
Di festival ini, Nia menceritakan antusias masyarakat sekitar terutama kaum muda yang gemar sekali minum kopi. Bahkan bupati kabupaten Lebak, Iti Octavia Jayabaya secara khusus mengundang penyanyi papan atas yakni Anji untuk memeriahkan dan menghibur para pengunjung yang datang secara langsung ke festival.
"Semoga acara ini mampu mengenalkan kembali eksistensi kopi khas kabupaten Lebak kepada publik, sehingga mampu mendorong perekonomian masyarakat setempat yang sempat lumpuh akibat pandemi Covid-19," ujar Nia dengan tatapan yang penuh harapan.(MEL)
Penulis: Melan Eka Lisnawati
6 Komentar
Meskipun zaman sudah berubah, citarasa jangan sampai berubah 👍🏻
BalasHapusIya dong, makanya pelesiran ke Lebak zar
HapusKeren mel lanjutkan
BalasHapusSiap, makasih yaa
HapusJadi pengen coba kopi khas lebak 😋
BalasHapusAyooo kita jalan-jalan ke Lebak rosma
Hapus